HarianBisnis.id-Galeri Indonesia Kaya kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung perkembangan seni pertunjukan Tanah Air dengan menghadirkan pementasan “Jemari Kecil”, sebuah teater musikal Tuli pertama di Indonesia. Dipentaskan oleh komunitas Fantasi Tuli, pertunjukan yang berlangsung pada akhir pekan ini menjadi pembuka rangkaian pentas seni di Galeri Indonesia Kaya sepanjang tahun 2026.
“Jemari Kecil” bukan sekadar pertunjukan biasa. Di atas panggung, seniman Tuli dan dengar berkolaborasi secara setara, menyajikan pengalaman teater yang melampaui batasan bahasa lisan. Pertunjukan ini menjadi ruang kreatif yang membuka cara pandang baru tentang bagaimana seni dapat dirasakan dan dimaknai secara inklusif oleh seluruh lapisan masyarakat.
Mengusung durasi kurang lebih 90 menit, “Jemari Kecil” mengisahkan perjalanan hidup Mentari, seorang penari Tuli yang kehilangan semangatnya untuk menari setelah sang ayah, seorang musisi, meninggal dunia. Dalam proses pencarian jati diri, Mentari bertemu dengan Awan, seorang produser musik yang membantunya menemukan kembali makna gerak, ritme, dan ekspresi. Kisah ini disampaikan melalui perpaduan bahasa isyarat, musik, dan teater yang mampu menghadirkan pengalaman emosional yang mendalam tanpa bergantung pada dialog lisan.
Renitasari Adrian, Program Director Galeri Indonesia Kaya, menyampaikan bahwa pihaknya sengaja menghadirkan pertunjukan inklusif ini sebagai bentuk dukungan terhadap keberagaman cara berekspresi.
“Melalui pementasan Jemari Kecil, Galeri Indonesia Kaya ingin menghadirkan panggung yang benar-benar terbuka bagi keberagaman cara berekspresi. Kolaborasi antara seniman Tuli dan dengar ini menunjukkan bahwa seni pertunjukan dapat dihadirkan secara inklusif. Kami percaya bahwa seni memiliki peran penting sebagai ruang temu, di mana perbedaan bukan menjadi batas, melainkan kekayaan yang saling melengkapi,” ujar Renitasari dalam keterangan resminya, Sabtu (31/1/2026).
“Kehadiran pementasan Jemari Kecil oleh Fantasi Tuli di Galeri Indonesia Kaya diharapkan dapat membuka perspektif baru bagi penonton, sekaligus memperluas ruang apresiasi terhadap karya-karya yang lahir dari pengalaman dan cara pandang yang beragam,” tambahnya.
Fantasi Tuli sendiri merupakan komunitas musikal Tuli pertama di Indonesia yang secara konsisten mempertemukan seniman Tuli dan dengar dalam panggung kolaboratif. Komunitas ini telah mencatat sejarah sebagai komunitas Tuli pertama di Indonesia yang mampu menampilkan pertunjukan tunggal musikalnya sendiri.
Pascal Meliala, pimpinan produksi sekaligus penulis naskah “Jemari Kecil” bersama Palka Kojansow, menegaskan bahwa pertunjukan ini merupakan wujud kolaborasi yang dibangun secara setara sejak awal proses kreatif. Menurutnya, keterlibatan aktif seniman Tuli dalam seluruh aspek produksi menjadi kunci terciptanya karya yang autentik dan menyentuh.
Pementasan “Jemari Kecil” di Galeri Indonesia Kaya menjadi bukti bahwa seni pertunjukan inklusif bukan sekadar wacana. Dengan menghadirkan ruang apresiasi yang terbuka bagi keberagaman, Galeri Indonesia Kaya bersama Fantasi Tuli telah membuka jalan bagi lahirnya lebih banyak karya seni yang lahir dari pengalaman dan cara pandang yang berbeda, sekaligus memperkaya khazanah seni pertunjukan Indonesia.
