Beranda » “Keluarga Suami adalah Hama” dan Keberanian Membongkar Racun dalam Rumah Tangga

“Keluarga Suami adalah Hama” dan Keberanian Membongkar Racun dalam Rumah Tangga

by Feisal

HarianBisnis.id-Sebuah film pendek berdurasi tak lebih dari 15 menit yang pernah viral di platform Noice kini berkembang menjadi cerita panjang. Keluarga Suami adalah Hama resmi dijadwalkan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 21 Mei 2026. Namun di balik judulnya yang sengaja mengguncang, tersimpan kegelisahan tentang satu realitas rumah tangga yang jarang diucapkan: tekanan dari keluarga pasangan pasca menikah.

Film ini merupakan adaptasi dari karya sutradara Aditya Sananta. Versi pendeknya dulu ramai diperbincangkan bukan karena efek visual mewah, melainkan keberaniannya mengangkat konflik yang dialami banyak pasangan muda Indonesia: intervensi mertua yang berkepanjangan hingga menggerus ketenangan rumah tangga.

Kali ini, cerita diperluas tanpa kehilangan akar emosinya. Alur dimulai dari kehidupan Intan dan Damar—sepasang suami istri yang dunianya berubah drastis setelah ayah Damar meninggal dunia. Sejak saat itu, tekanan dari keluarga besar Damar, terutama sang ibu, meningkat tajam. Intan harus berhadapan dengan mertua yang ikut campur dalam urusan domestik, sementara Damar terjepit dalam posisi sulit: menjadi tulang punggung bagi ibu dan adik-adiknya, sembari tetap memenuhi kebutuhan keluarganya sendiri.

Dengan kata lain, film ini tidak hanya berbicara tentang konflik menantu-mertua, tetapi juga mengangkat isu sandwich generation—fenomena di mana seseorang harus membiayai orang tua dan anak sekaligus. Sebuah kondisi yang menurut Badan Pusat Statistik tahun 2025, dialami hampir 40 persen kepala keluarga di usia produktif di kawasan urban.

Produser film yang meminta identitasnya tidak disebutkan mengatakan bahwa proyek ini lahir dari kegelisahan kolektif tim kreatif. “Kami melihat banyak pernikahan retak bukan karena kekerasan atau perselingkuhan, tapi karena tekanan ekonomi dan emosional dari keluarga besar. Ini tidak pernah cukup dibicarakan,” ujarnya dalam sesi diskusi tertutup beberapa waktu lalu.

Baca juga : Film ‘Penerbangan Terakhir’ Soroti Taktik ‘Ganteng-Ganteng Manipulatif’ di Bioskop

Yang menarik, judul Keluarga Suami adalah Hama dipilih justru untuk memantik diskusi publik, bukan untuk menghakimi. Menurut penulis skenario, frasa “hama” di sini bersifat metaforis, mengacu pada pola hubungan yang toksik dan tidak sehat, bukan pada individu tertentu. “Kami ingin penonton bertanya: sebenarnya siapa yang menjadi hama dalam rumah tangga? Bisa jadi sistem, bisa jadi cara pandang, bukan selalu seseorang,” ucapnya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak produksi belum merilis daftar pemain secara resmi. Namun sejumlah sumber menyebutkan bahwa beberapa nama senior dan pendatang baru berbakat telah bergabung. Yang pasti, sutradara Aditya Sananta kembali memegang kendali penuh, didukung oleh tim kreatif yang sama seperti saat mengerjakan versi pendek di Noice.

Para pengamat film menilai, langkah mengadaptasi film pendek yang viral menjadi panjang adalah strategi yang berisiko sekaligus menjanjikan. Risiko terbesar adalah mengencerkan intensitas emosi aslinya. Namun jika berhasil, Keluarga Suami adalah Hama bisa menjadi cermin sosial yang lebih tajam dari sekadar hiburan.

Dengan durasi sekitar 1 jam 45 menit, film ini masuk dalam kategori drama keluarga realistik. Pihak distributor menargetkan penonton dewasa usia 25–45 tahun, terutama mereka yang sudah menikah atau pernah mengalami tekanan serupa dari keluarga pasangan. 

You may also like

Leave a Comment