Beranda » Manajemen Identitas Jadi Prioritas Utama, HID Ungkap Tujuh Tren Keamanan yang Mendominasi 2026

Manajemen Identitas Jadi Prioritas Utama, HID Ungkap Tujuh Tren Keamanan yang Mendominasi 2026

by Maria Atun

HarianBisnis.id-Dunia keamanan perusahaan sedang berada di titik balik. Di tengah kaburnya batas antara dunia fisik dan digital, pengelolaan identitas—baik itu identitas karyawan, pengunjung, hingga perangkat—kini bukan lagi sekadar urusan teknis, melainkan fondasi utama strategi keamanan. Demikian kesimpulan utama dari Security and Identity Report 2026 yang dirilis oleh HID, pemimpin global dalam solusi identitas keamanan.

Laporan yang dipublikasikan pada Kamis (26/3/2026) ini disusun berdasarkan riset terhadap 1.500 praktisi keamanan dan IT, pengguna, serta mitra dari berbagai sektor, termasuk kesehatan, pendidikan, pemerintahan, keuangan, manufaktur, hingga infrastruktur kritis. Hasilnya mengungkapkan pergeseran fundamental: perusahaan tidak lagi hanya mencari solusi keamanan terpisah, tetapi mulai mengkonsolidasikan sistem identitas fisik dan digital ke dalam satu platform terintegrasi.

“Para eksekutif di bidang keamanan saat ini dituntut untuk meningkatkan infrastruktur dan akses identitas. Meski demikian, di saat yang sama mereka juga sangat peduli pada tata kelola, perlindungan, dan transparansi untuk menjaga kepercayaan pengguna,” ujar Ramesh Songukrishnasamy, Senior Vice President & Chief Technology Officer HID, dalam keterangan resmi.

“Perusahaan yang akan sukses di 2026 adalah mereka yang bisa memberikan solusi akses yang fleksibel bagi penggunanya, tanpa mengorbankan keamanan,” tegasnya.

Apa Saja Tujuh Tren yang Mengubah Wajah Keamanan?
Laporan HID 2026 menyusun tujuh tren utama yang menjadi penentu arah industri keamanan global. Berikut ringkasannya:

1. Manajemen Identitas Jadi Prioritas Utama

Hampir tiga perempat responden (73%) sepakat bahwa manajemen identitas adalah prioritas utama perusahaan—angka tertinggi dalam survei ini. Perusahaan mulai meninggalkan sistem kredensial terpisah dan beralih ke konsolidasi tata kelola identitas yang menggabungkan akses fisik dan digital dalam satu platform. Data karyawan, data pengunjung, sistem verifikasi berlapis (multi-factor authentication), hingga sistem PIAM (Physical Identity and Access Management) kini diupayakan untuk dikelola secara terpusat.

2. Mobile Credentials Semakin Masif

Penggunaan mobile credential—akses masuk gedung melalui smartphone—meningkat signifikan. Bukan sekadar karena kepraktisan (34%), tetapi lebih karena alasan keamanan (50%). Menariknya, 84% pengaku masih menyimpan akses fisik (kartu) sebagai cadangan meski telah mengandalkan mobile credentials. Hal ini menunjukkan kebutuhan akan sistem yang fleksibel dan adaptif terhadap perilaku pengguna yang beragam.

3. Biometrik Populer, Privasi Jadi Sorotan

Teknologi biometrik semakin diminati, dengan 45% responden menganggapnya strategis. Sidik jari (71%) dan pemindai wajah (50%) menjadi yang paling populer. Namun, di saat yang sama, kekhawatiran pengguna terkait etika dan privasi melonjak drastis—dari 31% menjadi 67% dibandingkan tahun lalu. Angka ini menjadi alarm bagi perusahaan untuk lebih transparan dalam menyimpan dan mengelola data biometrik.

4. RTLS Jadi Standar Baru

Real-time Location System (RTLS) atau sistem pelacakan lokasi real-time kini telah menjadi standar di berbagai sektor seperti kesehatan, manufaktur, dan logistik. Sebanyak 42% pengguna menjadikannya prioritas strategis, sementara 40% lainnya telah menerapkannya secara aktif. Kendala utama implementasi adalah biaya (33%), isu privasi (29%), dan kompleksitas integrasi (29%).

5. Satu Identitas untuk Semakin Didorong

Integrasi identitas fisik dan digital dalam satu sistem semakin diminati. Dari 75% perusahaan, 29% telah mengimplementasikan teknologi ini, sementara 46% lainnya sedang dalam tahap evaluasi aktif. Meski menawarkan efisiensi dan keamanan lebih baik, implementasinya masih terkendala anggaran (51%), kompleksitas (37%), dan kesenjangan keahlian (34%).

6. RFID Kini Jadi Infrastruktur Penting

Radio Frequency Identification (RFID) telah bertransformasi dari sekadar inovasi menjadi infrastruktur penting. Sebanyak 54% responden telah menggunakannya untuk pelacakan aset, manajemen inventaris, dan pencegahan kerugian. Manfaat utama yang dirasakan adalah pelacakan lebih cepat (62%) dan visibilitas lebih baik (41%).

7. Investasi Bergerak ke Integrasi Platform

Era solusi tunggal akan segera berakhir. Perusahaan kini lebih memprioritaskan integrasi solusi dibanding solusi tunggal untuk meningkatkan visibilitas, efisiensi, dan ketahanan. Namun, integrasi masih menjadi tantangan utama, dengan 52% responden menyebut kompleksitas sistem identitas sebagai kendala, sementara 37% menyoroti proses integrasi fisik-digital.

Mengapa Privasi Menjadi Isu Paling Kritis?
Di balik deretan tren teknologi, laporan ini menyoroti satu isu yang mendominasi perhatian para pemangku kepentingan: privasi. Untuk teknologi biometrik saja, 67% pengguna menyatakan kekhawatiran yang cukup serius hingga sangat serius terkait etika dan privasi.

Hadirnya teknologi pelacakan lokasi dan platform identitas terpadu membuat perusahaan berada di persimpangan: di satu sisi harus memperkuat keamanan, di sisi lain harus menjaga hak individu. Sejumlah responden mengaku tengah menyusun kebijakan, tata kelola, dan kontrol teknis untuk merespons isu ini—sebuah indikasi bahwa pendekatan keamanan semakin matang dan berorientasi pada keseimbangan.

Siapa yang Harus Membaca Laporan Ini?
Laporan Industri Keamanan dan Identitas HID 2026 dirancang untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang bagaimana bisnis mengambil keputusan di tengah tantangan operasional yang nyata. Bagi para pemimpin keamanan dan TI, laporan ini menjadi referensi penting untuk memahami bagaimana pelaku industri memprioritaskan investasi, mengelola risiko, dan mempersiapkan masa depan dengan identitas sebagai fondasi kepercayaan.

Dengan cakupan data yang beragam—mulai dari sektor kesehatan, pendidikan, pemerintahan, keuangan, manufaktur, hingga infrastruktur kritis—laporan ini menghadirkan perspektif dari pengguna akhir maupun mitra penyedia solusi, memberikan gambaran utuh tentang keselarasan antara strategi dan implementasi, sekaligus mengidentifikasi area yang masih memiliki kesenjangan.

 

You may also like

Leave a Comment