HarianBisnis.id-Aktivitas berburu takjil saat Ramadan ternyata telah berevolusi. Tak lagi sekadar kegiatan mengisi perut menjelang magrib, bagi generasi muda Indonesia, tradisi ini telah menjadi ritual tahunan yang sarat makna, mulai dari momen kebersamaan hingga hadiah setelah seharian berpuasa.
Temuan ini terungkap dalam laporan terbaru Populix berjudul “Berburu Takjil Menurut Gen Z dan Milenial” yang dirilis awal Maret 2026. Survei terhadap 1.000 responden dari generasi Z dan milenial ini menunjukkan pergeseran signifikan dalam cara anak muda memaknai dan menjalani tradisi berburu takjil.
Susan Adi Putra, Research Director Populix, menjelaskan bahwa fenomena berburu takjil kini menjadi aktivitas ngabuburit paling populer, jauh mengungguli kegiatan lain seperti berselancar di media sosial atau memasak.
“Temuan kami menunjukkan, 41 persen anak muda menganggap kegiatan berburu takjil bukan sekadar self-reward setelah seharian berpuasa, melainkan telah menjadi sebuah tradisi khas bulan Ramadan yang tidak tergantikan,” ujar Susan dalam keterangan resminya, Senin (2/3/2026).
Jalan-jalan Cari Takjil, Juara Ngabuburit
Survei yang dilakukan pada 18-19 Februari 2025 melalui platform PopSurvey ini memotret kebiasaan 1.000 responden dengan komposisi gender seimbang dan 93 persen di antaranya beragama Islam. Hasilnya, aktivitas “jalan-jalan mencari takjil” menjadi pilihan utama ngabuburit bagi 73 persen responden.
Di posisi kedua ada “scroll media sosial” (56 persen), disusul “masak untuk keperluan berbuka” (43 persen), “ibadah” (33 persen), “nonton film” (25 persen), dan “olahraga ringan” (18 persen).
Tingginya antusiasme berburu takjil tercermin dari frekuensinya. Lebih dari separuh responden mengaku membeli takjil hampir setiap hari (41 persen) atau 3-4 kali seminggu (24 persen). Hanya segelintir (5 persen) yang membeli kurang dari sekali seminggu atau tidak sama sekali.
Minuman Manis dan Gorengan Tak Terkalahkan
Soal menu favorit, minuman manis seperti es teh, es buah, atau es campur menjadi primadona dengan 88 persen suara, terutama di kalangan Gen Z. Gorengan menyusul di posisi kedua dengan 70 persen.
Menariknya, kue tradisional lebih digemari oleh responden perempuan dan generasi milenial (50 persen). Sementara itu, kurma (38 persen), dessert kekinian (33 persen), dan makanan berat seperti nasi atau lontong (31 persen) juga masuk dalam daftar favorit.
Pedagang Kaki Lima Tetap Raja, Tapi Online Mengintip
Meskipun berburu takjil identik dengan menyusuri pinggir jalan, gempuran digital mulai mengubah kebiasaan belanja. Sebanyak 95 persen responden masih setia membeli dari pedagang kaki lima. Namun, 37 persen di antaranya, terutama perempuan, juga memanfaatkan aplikasi pesan makanan online.
Tak hanya itu, 34 persen responden mengaku membeli takjil dari UMKM yang berjualan melalui media sosial atau WhatsApp. “Penjualan secara online membuka peluang untuk meraup omzet lebih tinggi,” tambah Susan.
Laporan Populix ini menegaskan bahwa berburu takjil telah menjadi fenomena sosial-ekonomi yang kompleks. Bukan sekadar urusan perut, tetapi juga tentang identitas, kebersamaan, dan peluang bisnis yang mengiringi datangnya bulan suci.
