Beranda » Makna Baju Lebaran Bergeser: Gen Z dan Milenial Kini Lebih Utamakan Kebersamaan daripada “Baru”

Makna Baju Lebaran Bergeser: Gen Z dan Milenial Kini Lebih Utamakan Kebersamaan daripada “Baru”

by Amelia

HarianBisnis.id-Idulfitri kerap dimaknai sebagai momen kembali kepada kesucian, sehingga tak heran jika tradisi mengenakan pakaian baru menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaannya. Namun, survei terbaru yang dilakukan Populix terhadap 1.000 responden generasi Z dan milenial mengungkap adanya pergeseran makna baju Lebaran di kalangan generasi muda. Kini, kebersamaan dinilai lebih penting daripada sekadar membeli pakaian baru.

Riset yang berlangsung pada 18–19 Februari 2026 itu menunjukkan bahwa hanya 29% responden yang masih mengidentikkan Lebaran dengan baju baru. Sebanyak 30% justru menilai bahwa yang terpenting adalah kelayakan pakaian—baju tidak harus baru, asalkan pantas dikenakan. Sementara 26% lainnya menyatakan pembelian baju baru hanya akan dilakukan jika kondisi keuangan sedang baik.

“Mayoritas Gen Z dan milenial kini memiliki pandangan lain. Mereka cenderung mementingkan kelayakan dan kondisi keuangan dibandingkan harus memaksakan untuk membeli baru,” ujar Susan Adi Putra, Research Director Populix, dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa (17/3/2026).

Kebersamaan Jadi Prioritas Utama
Alih-alih memburu pakaian baru, tren yang justru menguat tahun ini adalah keseragaman. Survei Populix mencatat bahwa tujuh dari sepuluh keluarga di Indonesia berencana mengenakan baju serasi (matching outfit) saat Lebaran. Rinciannya, 43% akan kompak dengan seluruh anggota keluarga besar, sementara 28% membatasi keserasian hanya pada keluarga inti (orang tua dan anak).

Alasan utama di balik tren ini cukup dominan: 68% responden menyebut bahwa baju serasi merupakan simbol kebersamaan keluarga di momen Idulfitri. Sebanyak 22% lainnya mengaku ingin terlihat rapi saat berfoto bersama, dan sisanya karena alasan praktis atau mengikuti keinginan keluarga.

Minimalis dan Earth Tone Mendominasi
Dari sisi gaya, baik Gen Z maupun milenial sepakat memilih tampilan minimalis dan rapi sebagai favorit. Di kalangan perempuan, gaya ini dipilih oleh 42% responden, disusul gaya fungsional dan praktis (22%), serta modest religius/syar’i (18%). Sementara laki-laki lebih dominan mengusung gaya minimalis dan rapi (50%), diikuti fungsional dan praktis (20%), serta tradisional-modern (12%).

Pilihan warna pun menunjukkan kecenderungan netral. Perempuan paling menyukai earth tone (43%), seperti beige, olive, khaki, dan cokelat, kemudian warna pastel (24%). Laki-laki lebih menyukai putih/off-white (33%), diikuti earth tone (28%), dan hitam/gelap netral (24%).

“Lebaran tahun ini mayoritas Gen Z dan milenial sepakat untuk memilih gaya berpakaian yang minimalis dan rapi, dengan potongan yang lebih sederhana dan warna-warna netral. Kemudian diikuti oleh tren pakaian fungsional dan praktis, yang harapannya dapat dipakai kembali untuk aktivitas lain di luar Idulfitri,” jelas Susan.

Anggaran dan Sumber Inspirasi
Dalam hal anggaran, mayoritas responden (32%) mematok biaya Rp300.000–Rp500.000 untuk satu set pakaian Lebaran. Sebanyak 25% membelanjakan kurang dari Rp300.000, sementara hanya 6% yang mengalokasikan lebih dari Rp1,5 juta. Milenial cenderung memiliki anggaran lebih besar dibandingkan Gen Z.

Soal keputusan gaya, 50% responden—khususnya milenial—mengaku memilih baju Lebaran secara bersama-sama dengan keluarga. Sementara di kalangan Gen Z, 17% masih mengikuti pilihan orang tua. Media sosial menjadi sumber inspirasi utama bagi 82% responden, disusul live streaming (39%).

“Hal ini menegaskan pengaruh kuat media sosial dan platform digital dalam mempromosikan produk fesyen,” tambah Susan.

Metodologi
Penelitian “Makna Baju Lebaran Menurut Gen Z dan Milenial 2026” dilaksanakan pada 18–19 Februari 2026 melalui survei terhadap 1.000 responden dengan komposisi 51% Gen Z dan 49% milenial. Sebagian besar responden beragama Islam dengan proporsi laki-laki dan perempuan seimbang.

Dengan temuan ini, Populix menunjukkan bahwa tradisi Lebaran terus beradaptasi dengan nilai-nilai generasi muda: dari simbol pembaruan diri menjadi perayaan kebersamaan yang lebih inklusif dan sadar anggaran.

You may also like

Leave a Comment