Beranda » Hari Pendidikan Nasional, vivo Dorong Akses Teknologi bagi Generasi Muda yang Terhalang Biaya

Hari Pendidikan Nasional, vivo Dorong Akses Teknologi bagi Generasi Muda yang Terhalang Biaya

by Amelia

HarianBisnis.id- Pemerintah memperkirakan Indonesia membutuhkan sekitar 9 juta talenta digital pada tahun 2030. Namun, saat ini jumlahnya baru mencapai 6 juta. Kesenjangan ini diperparah dengan tingginya angka pengangguran lulusan vokasi akibat keterbatasan akses terhadap pendidikan dan pelatihan yang relevan dengan kebutuhan industri.

Dalam momentum Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada 2 Mei, vivo Indonesia menegaskan komitmennya menjawab tantangan tersebut melalui program beasiswa vivo NexGen Scholars. Inisiatif yang telah berjalan sejak 2025 ini memberikan 60 beasiswa penuh bagi mahasiswa terpilih melalui jalur SNBP dan SNBT untuk menempuh pendidikan di Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS).

Arga Simanjuntak, Public Relations Director vivo Indonesia, menyampaikan bahwa program ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan dalam mendukung pengembangan sumber daya manusia di bidang teknologi.

“Kami melihat pentingnya memastikan bahwa generasi muda tidak hanya memiliki akses terhadap pendidikan, tetapi juga kesempatan mengembangkan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri. Momentum Hari Pendidikan Nasional menjadi pengingat bagi kami untuk terus memperkuat komitmen tersebut,” ujar Arga dalam siaran pers yang diterima wartawan, Selasa (20/5).

Enam Bidang Strategis

Program vivo NexGen Scholars difokuskan pada enam bidang studi yang dinilai memiliki keterkaitan erat dengan kebutuhan industri digital saat ini, yaitu Teknik Informatika, Sains Data Terapan, Teknik Elektronika, Teknik Telekomunikasi, Teknik Elektro Industri, dan Teknologi Game.

Program ini dijalankan melalui kolaborasi antara vivo Indonesia, Hoshizora Foundation, dan PENS dengan pendekatan berbasis ekosistem yang bertujuan menjembatani dunia pendidikan dan kebutuhan industri.

Kisah Para Penerima Beasiswa

Di balik angka 60 beasiswa, terdapat perjuangan nyata para mahasiswa. Evan Eka Kurniawan dari Banyuwangi tumbuh dalam keluarga dengan keterbatasan ekonomi, ibunya berjualan kopi eceran dengan penghasilan tidak tetap. Kini, Evan menjadi mahasiswa berprestasi dengan IPK 3,9, aktif mengembangkan aplikasi dan teknologi game.

“Beasiswa ini membuat saya bisa lebih fokus belajar dan mengembangkan kemampuan. Saya ingin suatu hari bisa membangun game yang tidak hanya menghibur, tetapi juga membawa dampak positif,” ujar Evan.

Zahra Adientya Putri asal Tulungagung menjalani pendidikan di tengah kondisi ekonomi orang tuanya yang terbatas. Ia tetap aktif mengikuti berbagai kegiatan pengembangan diri di kampus. “Program ini membantu saya tetap bisa kuliah tanpa membebani orang tua,” ungkap Zahra.

Dari Balikpapan, Izzal Maula Al Faqiih menghadapi kehilangan ibunya sekaligus beradaptasi sebagai mahasiswa perantau. Kini ia menempuh pendidikan Teknik Informatika dan aktif berorganisasi.

Sementara Ubayy Tsany Galiadupda berhasil mengembangkan chatbot berbasis AI yang dimanfaatkan pelaku UMKM setelah melalui kegagalan dalam proyek machine learning. Arkan Maulana Rizki dari Kalimantan Tengah, yang pernah mengalami perundungan lama, kini menempuh Teknik Elektronika dan bercita-cita membangun usaha di bidang teknologi energi.

Dampak Awal yang Positif

Yudi Anwar, Executive Director Hoshizora Foundation, menjelaskan bahwa rata-rata IPK mahasiswa di semester awal mencapai 3,41 dengan nilai tertinggi 3,9. Mereka juga aktif dalam organisasi, kompetisi, dan komunitas.

“Program ini sejalan dengan misi kami menginspirasi setiap anak menemukan mimpi dan membantu meraihnya melalui pendidikan layak,” jelas Yudi.

Dengan langkah kecil ini, vivo berharap dapat berkontribusi nyata terhadap target nasional menuju Indonesia 2045, sekaligus mempersiapkan generasi muda mengambil peran di masa depan yang semakin digital.

You may also like

Leave a Comment