HarianBisnis.id-Aroma rempah kembali semerbak di bulan Juli. Acaraki Jamu Festival kembali hadir, kali ini mengusung tema “Menjamu Warisan, Merayakan Indonesia”. Festival ini bukan sekadar ajang minum jamu, melainkan perayaan budaya yang memadukan nilai tradisional dengan sentuhan gaya hidup modern.
Diselenggarakan oleh GP Jamu bersama Acaraki dan didukung Larutan Cap Badak, festival ini mengajak masyarakat—terutama generasi muda—untuk melihat jamu sebagai lebih dari sekadar minuman. Jamu dimaknai sebagai simbol penghormatan, perawatan, dan sambutan terhadap sesuatu yang berharga.
Menurut Jony Yuwono, inisiator acara, Acaraki Jamu Festival merupakan bentuk komitmen jangka panjang untuk menjaga eksistensi jamu lintas generasi. Ia yakin, minat anak muda terhadap budaya lokal cukup tinggi—asal dikemas dengan cara yang relevan, akrab, dan kekinian.
Salah satu sorotan acara adalah kembalinya sosok ikonik Mbok Jamu, yang hadir bukan hanya sebagai penjual jamu, tetapi juga simbol kasih sayang dan ketekunan dari masa ke masa. Acaraki ingin budaya tak hanya dirayakan, tapi juga dihidupkan kembali dalam wujud yang inspiratif dan membumi.
Deretan kegiatan tahun ini sarat makna simbolik dan edukatif. “Funwalk Jamu Gendong” sejauh 2,5 km mengajak peserta merasakan perjuangan Mbok Jamu saat menjajakan racikan herbalnya. Sementara itu, permainan tradisional seperti bekel, gasing, ketapel, dan tumpuk batu dihadirkan dalam suasana penuh tawa dan nostalgia.
Tak kalah menarik, “Pesta Aksara Indonesia” mengajak pengunjung mencetak nama mereka dalam aksara lokal seperti Jawa, Sunda, hingga Batak. Ada pula petisi untuk mendukung pelestarian aksara nusantara—sebuah langkah kecil yang berarti besar bagi warisan budaya literasi Indonesia.
Festival ditutup dengan glamor melalui final kompetisi fashion show “Tradition Meets Couture”. Para finalis menampilkan koleksi yang memadukan siluet modern dengan sentuhan etnik khas Mbok Jamu. Hasilnya? Koleksi yang anggun, kuat, dan membuktikan bahwa budaya bisa tampil menawan di panggung haute couture.
Acaraki Jamu Festival kembali membuktikan: warisan budaya bukan untuk disimpan di museum saja, tapi bisa hidup berdampingan dengan tren—asal diiringi cinta, kreativitas, dan makna.
