HarianBisnis.id-Jumlah perokok aktif di Indonesia kini menembus angka 70 juta orang, dengan 7,4 persen di antaranya adalah anak-anak berusia 10 hingga 18 tahun. Fakta ini menjadikan tembakau sebagai salah satu krisis kesehatan masyarakat terbesar yang mengancam generasi bangsa. Tidak hanya perokok aktif, kelompok rentan seperti perokok pasif dan perokok ketiga—mereka yang menghirup residu racun rokok yang menempel pada pakaian, kulit, hingga perabotan rumah—juga berada dalam bahaya serius.
Bertepatan dengan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) bersama Kenvue, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), BPOM, dan Guardian secara resmi meluncurkan kampanye nasional #SehatTanpaRokok. Inisiatif ini merupakan langkah lanjutan dari Program Upaya Berhenti Merokok (UBM) untuk Indonesia Sehat yang sejalan dengan implementasi Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan.
Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, dr. Benjamin Paulus Octavianus, dalam sambutannya menegaskan bahwa pengendalian tembakau menjadi prioritas dalam agenda Transformasi Sistem Kesehatan. “Di Hari Tanpa Tembakau Sedunia ini, saya ingin mengingatkan bahwa kita memiliki agenda Transformasi Sistem Kesehatan yang menempatkan upaya promotif dan preventif sebagai fondasi utama. Pemerintah terus memperkuat kebijakan pengendalian tembakau serta menyelesaikan regulasi yang bertujuan untuk mengurangi daya tarik produk tembakau, terutama bagi anak-anak dan remaja,” ujarnya di Jakarta, Selasa (3/6/2026).
Krisis kesehatan nasional kian diperparah oleh lonjakan penggunaan rokok elektrik (vape) di kalangan remaja yang meningkat pesat hingga 10 kali lipat, dari 0,3 persen menjadi 3 persen. Sementara itu, berdasarkan data WHO dan Kemenkes RI, pneumonia memicu 740.000 kematian pada anak di bawah usia 5 tahun secara global setiap tahunnya, dan anak-anak yang tinggal bersama orang tua perokok memiliki kerentanan jauh lebih tinggi terkena penyakit tersebut.
Ketergantungan nikotin, menurut para ahli, merupakan kondisi medis yang membutuhkan intervensi klinis terukur, bukan sekadar mengandalkan niat. Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K)., Penasihat Pengurus Pusat PDPI, memaparkan bahwa rokok konvensional menjadi faktor risiko utama PPOK, kanker paru, penyakit jantung, dan stroke. Sementara rokok elektronik tetap mengandung zat adiktif nikotin yang berbahaya.
“Yang perlu dipahami, ketergantungan nikotin adalah kondisi medis sehingga berhenti merokok sering kali membutuhkan bantuan profesional, bukan sekadar mengandalkan niat. Di Indonesia, Nicotine Replacement Therapy (NRT) dalam bentuk Nicotine Gum merupakan terapi farmakologis untuk berhenti merokok yang telah disetujui BPOM dan termasuk dalam daftar prequalification WHO. Penggunaan NRT dapat meningkatkan peluang keberhasilan berhenti merokok hingga dua kali lipat dibandingkan dengan niat semata, dan hingga lima kali lipat apabila dikombinasikan dengan konseling perilaku,” jelas Prof. Agus.
dr. Tirta Mandira Hudhi, dokter sekaligus mantan perokok berat, turut membagikan pengalamannya. “Berhenti merokok memang butuh tekad, tetapi sering kali niat saja kalah oleh withdrawal syndrome. Kombinasi antara niat yang kuat dari dalam diri dan bantuan metode ilmiah terbukti dapat meningkatkan tingkat keberhasilan untuk berhenti,” ucapnya.
Sebagai implementasi konkret, kampanye ini menghadirkan Workshop Upaya Berhenti Merokok yang melibatkan 150 tenaga kesehatan profesional, terdiri dari 100 konselor Klinik UBM Puskesmas serta 50 apoteker dan staf lapangan Guardian. Kurikulum pelatihan mencakup kebijakan pedoman UBM, aspek medis dampak rokok, pendekatan kombinasi farmakoterapi dan non-farmakoterapi, hingga teknik wawancara motivasional empatik.
Fika Yolanda, Marketing Director Kenvue Indonesia, menyatakan bahwa Nicorette® sebagai solusi NRT pertama dan satu-satunya yang berstatus farmakoterapi resmi di Indonesia mulai digunakan di sejumlah klinik UBM Puskesmas di Jakarta dan Bogor. Commercial Director Guardian Indonesia, Karina Elisabet Wirian, menambahkan bahwa lebih dari 500 apoteker dan tenaga vokasi farmasi Guardian siap aktif memberikan edukasi mengenai UBM.
Melalui kolaborasi lintas sektor antara regulator, ahli medis, penyedia layanan kesehatan publik, dan industri ini, kampanye #SehatTanpaRokok diharapkan mampu mengubah lanskap penanganan ketergantungan tembakau di Indonesia serta mewujudkan kualitas hidup yang lebih sehat dan produktif bagi seluruh lapisan masyarakat. (*)
