Beranda » RI-China Perkuat Kolaborasi Teknologi Penyimpanan Energi di EESA Summit 2026

RI-China Perkuat Kolaborasi Teknologi Penyimpanan Energi di EESA Summit 2026

by Maria Atun

HarianBisnis.id Energy Storage Alliance (EESA) bersama Seven Event menggelar EESA Summit Indonesia 2026 di Pullman Hotel Thamrin, Jakarta, sebagai upaya mempercepat transisi energi bersih dan memperkuat ketahanan energi nasional. Forum yang didukung penuh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) ini menjadi jembatan strategis yang mempertemukan pembuat kebijakan dengan pelaku industri teknologi penyimpanan energi dari Indonesia dan Tiongkok .

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar dunia menghadapi tantangan unik dalam mengintegrasikan energi terbarukan. Ketergantungan pada kondisi cuaca membuat teknologi penyimpanan energi (energy storage system) dan sistem jaringan listrik mandiri (microgrid) menjadi kunci utama menciptakan sistem kelistrikan yang stabil, andal, dan efisien di seluruh Nusantara .

Chief Operating Officer Seven Event, Agus Riyadi, menyatakan bahwa EESA Summit hadir untuk mempertemukan pemerintah dengan pelaku industri utama. “Kami berharap sinergi yang kuat antara Indonesia dan Tiongkok, khususnya melalui pemanfaatan inovasi teknologi penyimpanan energi, dapat mempercepat pencapaian target transisi energi bersih serta mendukung ketahanan energi nasional yang andal dan berkelanjutan,” ujar Agus .

Forum ini menghadirkan sejumlah pejabat pemerintah dan pakar industri. Harris, Sekretaris Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), mewakili Dirjen Eniya Listiani Dewi memaparkan kebijakan pemerintah dalam mendukung penggunaan alat penyimpanan energi, termasuk aturan investasi dan peta jalan energi nasional .

Kehadiran perusahaan teknologi terkemuka Tiongkok seperti Cornex New Energy, Shenzhen Megarevo, dan Shenzhen Topband menjadi bukti nyata komitmen kerja sama di bidang penyimpanan energi. Para pakar global berbagi pengalaman tentang teknologi cerdas yang telah sukses dijalankan di Tiongkok untuk menjawab tantangan keterbatasan listrik di daerah terpencil dan kepulauan Indonesia .

Sesi diskusi mengangkat berbagai topik strategis. Hery Ferdiansyah dari Kementerian ESDM memaparkan arahan kebijakan membuka peluang kerja sama global demi target Net Zero Emission 2060. Nico Samuel Saroinsong dari PLN menyampaikan gambaran proyek energi terbarukan yang berjalan. Sementara Dessy Lusyana dari Kementerian Perindustrian menjelaskan penerapan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan strategi kerja sama patungan dengan pihak asing .

Topik kewilayahan menjadi perhatian khusus. Nur Hadiyanto dari Kementerian ESDM menjabarkan strategi pemerintah dalam pemerataan listrik di daerah kepulauan dengan target pembangunan Listrik Desa di 2.065 lokasi pada 2026 . Priambudi Pujihatma dari Pertamina NRE membagikan pengalaman proyek microgrid di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) .

Sekretaris Jenderal EESA, Rene Duan, menyampaikan apresiasinya atas kehadiran para regulator dan pelaku industri. “Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam mengembangkan energi bersih. Melalui EESA Summit Indonesia ini, kami berkomitmen untuk terus menjadi jembatan kerja sama antara Tiongkok dan Indonesia sehingga dapat mewujudkan sistem energi masa depan yang andal dan ramah lingkungan,” ujar Rene .

Melalui sinergi yang tercipta, pemanfaatan teknologi penyimpanan energi dari Tiongkok diharapkan menjadi solusi teknis sekaligus langkah strategis memperkuat infrastruktur pasokan listrik yang bersih, stabil, dan berkelanjutan di seluruh wilayah kepulauan Indonesia.

You may also like

Leave a Comment