HarianBisnis.id- Di era globalisasi yang semakin tak terbendung, fenomena baru mulai terlihat di kalangan orang tua muda Indonesia. Tidak lagi sekadar mengenalkan abjad atau angka, kini semakin banyak keluarga yang mulai mengajak anak-anak mereka berkenalan dengan bahasa asing sejak usia dini. Bukan hanya sebagai bekal komunikasi masa depan, praktik ini ternyata menyimpan manfaat yang lebih dalam: pengembangan kognitif anak.
Sejumlah penelitian terbaru mengungkap bahwa proses mempelajari bahasa baru melibatkan berbagai fungsi otak secara bersamaan. Mulai dari memori, perhatian, pemecahan masalah, hingga kemampuan beradaptasi terhadap informasi baru, semuanya terstimulasi ketika seorang anak belajar mengenali pola bahasa, memahami konteks, dan mengingat kosakata.
Bahkan, sebuah studi dari Baycrest dan York University menemukan fakta mencengangkan. Orang dewasa yang menggunakan Duolingo selama sekitar 30 menit sehari dalam kurun waktu empat bulan menunjukkan peningkatan terukur pada fungsi eksekutif dan performa kognitif mereka. Para peneliti mengamati peningkatan di sejumlah area, termasuk memori kerja, fokus, dan fleksibilitas kognitif dibandingkan dengan kelompok kontrol.
Ayoe Sutomo, Psikolog Anak, Remaja, dan Keluarga, menjelaskan bahwa belajar bahasa baru tidak hanya membantu anak memperluas kosakata, tetapi juga melatih cara mereka memahami pola, menghubungkan informasi, dan menyesuaikan diri dengan konteks yang berbeda.
“Dalam berbagai penelitian, kemampuan-kemampuan ini berkaitan dengan berkembangnya fleksibilitas berpikir yang menjadi pondasi penting dalam proses belajar dan pemecahan masalah sehari-hari,” ujar Ayoe.
Namun, Ayoe menekankan bahwa manfaat tersebut tidak muncul secara instan. Konsistensi, frekuensi belajar yang teratur, serta pengalaman belajar yang menyenangkan tetap menjadi faktor penting yang mendukung keberhasilan anak dalam mempelajari bahasa baru. Ia juga mengingatkan pentingnya pendampingan orang tua ketika anak menggunakan perangkat digital sebagai sarana belajar.
Di Indonesia, tren ini mulai terlihat nyata. Orang tua kini memadukan interaksi sehari-hari, pendidikan formal, dan berbagai platform digital untuk mengenalkan bahasa kepada anak sejak dini. Platform pembelajaran bahasa seperti Duolingo, yang secara global melayani lebih dari 133 juta pengguna aktif bulanan dan lebih dari 52 juta pengguna aktif harian, menjadi salah satu sarana yang banyak dimanfaatkan. Dengan pendekatan interaktif dan berbasis permainan, platform ini membantu membuat proses belajar bahasa lebih mudah diakses dan menarik bagi pembelajar dari berbagai kelompok usia.
Salah satu contoh nyata datang dari Hudzaifah Giyan G., seorang anak yang telah dikenalkan pada berbagai bahasa sejak usia dini. Menurut sang ayah, Gosra Andri Putra, ketertarikan Hudzaifah terhadap bahasa tumbuh secara alami melalui kombinasi interaksi sehari-hari, paparan multibahasa, dan penggunaan berbagai sarana belajar, termasuk platform digital.
“Hudzaifah mulai dikenalkan pada berbagai bahasa sejak usia yang masih sangat muda. Sekitar usia 2,5–3 tahun, ia mulai belajar bahasa Inggris secara mandiri, dan salah satu alat yang ia gunakan adalah Duolingo. Menurut saya, aplikasi ini aman untuk anak-anak dan juga menyenangkan, karena dirancang seperti permainan dan menawarkan banyak pilihan bahasa. Yang terpenting, sama seperti penggunaan gadget atau permainan lainnya, pengawasan orang tua tetap menjadi hal yang penting,” ujar Gosra.
Di luar manfaat akademis, kemampuan multibahasa juga membuka peluang bagi anak untuk mengenal beragam budaya, perspektif, dan cara berkomunikasi. Seiring semakin banyak keluarga yang mencari cara untuk mendukung tumbuh kembang anak di era global, pembelajaran bahasa menjadi lebih dari sekadar keterampilan komunikasi. Bagi banyak orang tua, kegiatan ini juga merupakan investasi jangka panjang untuk membangun rasa ingin tahu, kemampuan beradaptasi, dan fondasi pembelajaran sepanjang hayat.
Melalui akses ke lebih dari 40 bahasa dan pendekatan pembelajaran yang interaktif, platform seperti Duolingo turut membantu mendukung perjalanan belajar tersebut dengan cara yang lebih fleksibel dan mudah diakses oleh berbagai kelompok usia. Sebuah langkah kecil yang dimulai dari rumah, namun membawa dampak besar bagi masa depan generasi penerus bangsa.
