HarianBisnis.id- Di tengah hiruk-pikuk pameran teknologi Mobile World Congress (MWC) 2026, Huawei mengumumkan pencapaian yang jauh dari sekadar gimik gadget. Perusahaan teknologi asal China itu mencatatkan diri telah menyediakan akses konektivitas digital bagi 170 juta orang yang tinggal di wilayah terpencil, melampaui komitmen global yang dicanangkan dua tahun lalu.
Pengumuman tersebut disampaikan dalam ajang TECH Cares Forum yang digelar di Barcelona, Spanyol, Selasa (3/3/2026). Angka 170 juta ini melampaui target awal Huawei saat bergabung dengan koalisi digital Partner2Connect (P2C) di bawah naungan International Telecommunication Union (ITU) pada 2022, yang hanya menargetkan 120 juta jiwa pada 2025.
Yang Chaobin, CEO Huawei ICT Business Group, menyampaikan apresiasi kepada para mitra telekomunikasi yang telah berkolaborasi mewujudkan pencapaian ini. Ia menegaskan bahwa di era di mana kecerdasan buatan (AI) berkembang pesat, kesenjangan digital justru mengancam untuk semakin melebar.
“Jaringan digital berkecepatan tinggi dan kapabilitas komputasi yang andal merupakan fondasi penting bagi era AI yang inklusif dan berkelanjutan,” ujar Yang dalam pidatonya.
AI Tak Akan Ada Artinya Tanpa Koneksi
Forum yang dihadiri sekitar 80 perwakilan dari pemerintah, industri, dan lembaga internasional ini menjadi ajang diskusi tentang urgensi inklusi digital. Cosmas Zavazava, Direktur Biro Pengembangan Telekomunikasi ITU, mengapresiasi langkah Huawei yang dinilainya tidak hanya sekadar membangun infrastruktur, tetapi juga menghadirkan model bisnis inovatif yang melibatkan masyarakat lokal.
“Untuk menghubungkan komunitas pedesaan dan wilayah yang belum terlayani, dibutuhkan model bisnis yang inovatif, pendekatan yang inklusif, serta investasi berkelanjutan dalam pengembangan kapasitas lokal,” kata Zavazava.
Ia menekankan bahwa kemitraan antara ITU dan Huawei menjadi contoh bagaimana sektor swasta dapat berkontribusi nyata dalam mewujudkan konektivitas universal yang bermakna.
Dari Inovasi Teknologi hingga Pelatihan Warga
Jeff Wang, President of Huawei Public Affairs and Communications, memaparkan bahwa inklusi digital tidak bisa hanya mengandalkan pembangunan menara atau kabel serat optik. Dua pilar utama yang harus berjalan beriringan adalah konektivitas yang inklusif dan pemberdayaan keterampilan digital.
Sejak 2017, Huawei terus mengembangkan solusi Rural Series yang dirancang khusus untuk menjangkau daerah terpencil dengan biaya lebih efisien. Inovasi terbaru, RuralCow yang diluncurkan November 2025, bahkan mampu memperluas cakupan jaringan ke desa-desa dengan populasi hanya sekitar 1.500 jiwa.
Di sisi pemberdayaan, program Skills on Wheels Huawei telah memberikan pelatihan digital berbasis mobilitas kepada lebih dari 130.000 orang di 21 negara. Program ini menyasar pelajar, generasi muda, lansia, dan perempuan agar tidak tertinggal oleh derap kemajuan teknologi.
Marina Madale, Executive of Sustainability and Shared Value di MTN Group, menegaskan bahwa konektivitas kini bukan lagi barang mewah. “Konektivitas adalah infrastruktur dasar bagi pertumbuhan Afrika,” tegasnya.
Ke depan, Huawei berkomitmen untuk terus mendorong inovasi teknologi jaringan pedesaan, memperkuat kolaborasi terbuka, serta mempercepat pemberdayaan keterampilan digital. Targetnya jelas: mewujudkan dunia digital yang lebih setara dan berkelanjutan, di mana lokasi geografis tidak lagi menjadi penghalang untuk mengakses layanan kesehatan, pendidikan, dan keuangan.
