HarianBisnis.id-OJK dorong peran strategis pasar modal untuk agenda prioritas pemerintah. Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar sampaikan hal itu dalam Pembukaan Perdagangan Perdana BEI Tahun 2026. Ia tekankan peningkatan integritas pasar dan pendalaman likuiditas sebagai kunci utama. OJK juga bakal tingkatkan perlindungan bagi investor minoritas dan ritel.
Regulasi baru untuk finfluencer kini dalam tahap finalisasi dan ditargetkan terbit pertengahan 2026. Aturan itu tekankan aspek kapabilitas, transparansi, dan kepatuhan perizinan. Tujuannya mendukung literasi investasi yang bertanggung jawab di kalangan masyarakat. Pengawasan terhadap finfluencer akan diperketat untuk ciptakan ekosistem investasi sehat.
Direktur Utama BEI Iman Rachman ungkapkan masterplan pengembangan pasar modal 2026-2030. Peta jalan itu targetkan pasar modal yang inovatif, transparan, dan berdaya saing global pada 2030. BEI akan dorong inovasi produk dan pendalaman pasar. Langkah itu agar pasar modal berkontribusi lebih besar untuk pembiayaan jangka panjang ekonomi nasional.
Pasar Modal Indonesia tutup 2025 dengan kinerja solid. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 22,13 persen year to date ke level 8.646,94 poin. Investor asing catatkan net buy senilai Rp36,23 triliun di Semester II-2025. Rerata transaksi harian naik menjadi Rp18,1 triliun dengan pertumbuhan investor mencapai 20,2 juta SID.
Memasuki 2026, OJK dan Self-Regulatory Organization (SRO) berkomitmen implementasikan program strategis. Fokusnya pada peningkatan integritas dan kedalaman pasar. Program itu termasuk peningkatan kualitas perusahaan tercatat dan transparansi kepemilikan. OJK terus tingkatkan perlindungan investor ritel dari praktik tidak sehat.
OJK bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan BEI bangun Sistem Registri Unit Karbon (SRUK). Sistem itu merupakan tindak lanjut Perpres 110/2025 untuk hadirkan pencatatan karbon yang kredibel. Tujuannya mendorong pendalaman pasar dan percepatan ekonomi hijau nasional. Inisiatif ini juga sejalan dengan peta jalan BEI menuju pasar modal berkelanjutan.
OJK pastikan keberlanjutan perlakuan khusus bagi nasabah terdampak bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar. Langkah itu mencakup restrukturisasi kredit dan percepatan klaim asuransi sesuai POJK 19/2022. OJK tegaskan komitmen menjaga sinergi industri untuk pasar modal yang likuid. Mereka targetkan iklim investasi yang lebih sehat sepanjang 2026.
Dominasi investor berusia di bawah 40 tahun semakin terlihat di pasar modal Indonesia. Namun, kontribusi pasar saham terhadap PDB masih di bawah negara kawasan seperti Thailand dan Malaysia. OJK dan BEI berupaya atasi tantangan ini melalui pendalaman dan inovasi produk keuangan.
Masterplan BEI 2026-2030 juga dukung penguatan infrastruktur dan perluasan partisipasi publik. Pertumbuhan investor ritel menjadi modal penting untuk perluasan basis pasar. OJK dan BEI optimis kolaborasi ini pacu kontribusi pasar modal bagi pembangunan ekonomi. Mereka bidik pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.
