HarianBisnis.id– Ekonomi digital Indonesia diproyeksikan menembus USD 340 miliar pada 2030. Namun di balik percepatan adopsi AI, cloud, dan fintech, ancaman siber berkembang dengan skala mengkhawatirkan. Indosat Business meluncurkan whitepaper terbaru yang mengungkap lonjakan AI-related fraud hingga 1.550 persen di sektor fintech Tanah Air.
Angka itu bukan sekadar statistik. Di dalamnya terdapat modus deepfake dan AI voice impersonation yang digunakan untuk penipuan berbasis identitas. Kondisi ini diperparah oleh temuan Cisco Cybersecurity Readiness Index 2025: hanya 11 persen organisasi di Indonesia yang dinilai siap menghadapi ancaman keamanan siber modern.
Sisanya? Rentan.
Kerugian Miliaran dan UU PDP
Rata-rata kerugian akibat kebocoran data di Indonesia dapat mencapai sekitar Rp15 miliar per insiden. Di saat yang sama, implementasi Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP) mewajibkan organisasi melaporkan insiden keamanan siber dalam waktu 72 jam. Artinya, keterlambatan respons tidak hanya merugikan finansial, tetapi juga berisiko pidana.
Menyadari kesenjangan ini, Indosat Business meluncurkan whitepaper bertajuk “A Business-Centric Framework for Enterprise Cyber-Resilience” bersama pakar cybersecurity Dr. Ir. Charles Lim dari Swiss German University. Dokumen ini mengangkat fenomena resilience gap: kondisi ketika laju transformasi digital jauh melampaui kesiapan organisasi membangun ketahanan siber.
Muhammad Buldansyah, Director & Chief Business Officer Indosat Ooredoo Hutchison, menegaskan bahwa cyber resilience kini bukan lagi isu teknologi semata. “Ini fondasi kepercayaan dan keberlangsungan bisnis,” ujarnya dalam siaran pers yang dirilis Senin (11/5).
Beralih dari Reaktif ke Adaptif
Dr. Charles Lim menambahkan, ancaman siber berkembang semakin sulit dideteksi, terutama dengan munculnya AI-enabled fraud. “Organisasi perlu beralih dari pendekatan reaktif menuju cyber resilience yang adaptif dan berkelanjutan,” katanya.
Whitepaper ini tidak hanya membahas strategi teknis seperti Zero Trust Architecture dan Human Firewall, tetapi juga mengulas tantangan lintas sektor strategis: finansial, manufaktur, pemerintahan, hingga pendidikan. Semuanya kini menghadapi eksposur risiko siber yang semakin tinggi seiring percepatan digitalisasi nasional.
Indosat Business, sebagai mitra transformasi digital enterprise di berbagai sektor, ingin mendorong perusahaan melihat ketahanan siber sebagai bagian integral dari strategi bisnis jangka panjang. Bukan sekadar lapisan pengaman tambahan.
“Hari ini, kebutuhan enterprise tidak lagi hanya sebatas konektivitas dan teknologi, tetapi juga kemampuan membangun ketahanan siber yang adaptif, terintegrasi, dan siap menghadapi ancaman modern,” pungkas Buldansyah.
Whitepaper lengkap dapat diunduh di laman resmi Indosat. Dengan publikasi ini, Indosat Business berharap dapat menutup resilience gap sebelum celah itu semakin lebar dan merugikan. (*)
