Beranda » RKAB Batu Bara Dipangkas, United Tractors Kehilangan Rp5,7 Triliun di Kuartal I-2026

RKAB Batu Bara Dipangkas, United Tractors Kehilangan Rp5,7 Triliun di Kuartal I-2026

by Feisal

HarianBisnis.id-Kebijakan pemerintah memangkas alokasi RKAB (Rencana Kerja dan Anggaran Biaya) batu bara nasional tahun 2026 mulai meninggalkan bekas di neraca raksasa pertambangan. PT United Tractors Tbk (UT) membukukan pendapatan bersih Rp28,6 triliun sepanjang Januari–Maret 2026. Angka ini susut Rp5,7 triliun atau setara 17 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp34,3 triliun.

Apa yang Terjadi?

Dalam laporan keuangan konsolidasian yang dirilis Rabu (29/4/2026), manajemen UT menyebut dua penyebab utama penurunan pendapatan secara bersamaan.

Pertama, anak usaha di sektor tambang emas, PT Agincourt Resources, sama sekali tidak menjual emas pada triwulan pertama tahun ini. Padahal di kuartal I-2025, kontribusi emas cukup signifikan terhadap total pendapatan. Tidak ada penjelasan rinci mengapa penjualan emas nihil, namun dampaknya langsung terasa: satu sumber pendapatan besar tiba-tiba menghilang.

Kedua, segmen Mesin Konstruksi dan Kontraktor Penambangan juga tergerus. Penyebabnya adalah penurunan alokasi RKAB batu bara nasional tahun 2026. Saat kuota produksi batu bara dipangkas, permintaan terhadap alat berat dan jasa kontraktor penambangan otomatis merosot.

Siapa yang Terdampak?

Dampak paling terasa dirasakan oleh divisi kontraktor penambangan UT yang selama ini menyuplai jasa ke berbagai tambang batu bara di Kalimantan dan Sumatera. Para operator alat berat dan mekanik di lapangan mengalami pengurangan jam kerja seiring dengan berkurangnya target produksi mitra tambang mereka.

Kapan Penurunan Ini Terjadi?

Penurunan pendapatan tercatat sepanjang triwulan pertama 2026 (Januari–Maret). Laporan ini diumumkan kepada publik pada 29 April 2026, sesuai jadwal keterbukaan informasi emiten di Bursa Efek Indonesia.

Di Mana Dampak Paling Terasa?

Secara geografis, penurunan kinerja segmen Mesin Konstruksi dan Kontraktor Penambangan paling terasa di wilayah-wilayah dengan konsesi tambang batu bara skala besar, seperti Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, dan Sumatera Selatan. Sementara itu, mandeknya penjualan emas dari PT Agincourt Resources berdampak langsung pada pendapatan yang biasanya berasal dari tambang Martabe di Sumatera Utara.

Mengapa Ada Sisi Positif?

Meski total pendapatan turun, UT masih bisa tersenyum tipis. Segmen Pertambangan Batu Bara Termal dan Pertambangan Metalurgi justru mencatat peningkatan pendapatan. Penyebabnya: harga rata-rata batu bara yang lebih tinggi di pasar global dibanding periode yang sama tahun 2025. Dengan kata lain, meskipun volume produksi nasional menurun, harga yang lebih baik memberikan bantalan terhadap kejatuhan pendapatan.

Bagaimana Prospek ke Depan?

Manajemen UT belum memberikan proyeksi resmi untuk kuartal II-2026. Namun, analis memperkirakan bahwa jika harga batu bara tetap stabil di level tinggi, UT masih bisa mengimbangi tekanan dari kebijakan RKAB dan mandeknya penjualan emas. Kunci utamanya adalah kapan PT Agincourt Resources akan kembali menjual emas. Jika di kuartal II penjualan emas berjalan normal, pendapatan UT berpotensi pulih.

 

 

You may also like

Leave a Comment