Beranda » Al Qohhar dan Janji yang Ditepati: 23 Tahun Menjadi Keluarga bagi Anak Yatim

Al Qohhar dan Janji yang Ditepati: 23 Tahun Menjadi Keluarga bagi Anak Yatim

by Amalia Putri

HarianBisnis.id-Tawa anak-anak pecah di halaman Yayasan Al Qohhar, Jumat (2/10/2026). Mereka berlarian tanpa beban, meski kisah kehilangan pernah menghantui masa kecil. Di balik keceriaan itu, ada perjalanan panjang tentang kasih sayang yang tak putus dan rumah bagi ratusan anak yatim.

Perjalanan Al Qohhar bermula jauh sebelum yayasan resmi berdiri. Semua berawal dari majelis ta’lim sederhana yang dibina seorang guru. Haji Robert Nitiyudo Wachjo, murid setia, tak menyangka pelajaran itu akan mengubah hidupnya dan banyak orang di sekitarnya. Termasuk anak-anak yatim yang kelak menjadi bagian keluarganya.

Ketika sang guru meninggal dunia, Haji Robert dihadapkan pada amanat besar. Sang guru berpesan agar ia mengurus anak yatim, yatim piatu, dan lansia. Amanat itu bukan sekadar kalimat, melainkan tanggung jawab yang harus diwujudkan dalam tindakan nyata setiap hari. Ia tak ingin amanat itu berhenti sebagai kenangan.

Haji Robert tak tinggal diam. Ia mengurus legalitas yayasan, melengkapi dokumen, dan memastikan semuanya berjalan sesuai aturan. Pada 9 Juli 2003, Yayasan Al Qohhar resmi berdiri. Sejak hari itu, perjalanan panjang penuh makna dimulai, mengubah banyak kehidupan. Langkah kecil itu menjadi fondasi besar bagi masa depan anak-anak.

Dua puluh tiga tahun berlalu. Yayasan Al Qohhar telah mengasuh sekitar 865 anak yatim dan 387 anak yatim piatu. Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan bukti nyata bahwa amanat sang guru benar-benar dijalankan dengan sepenuh hati dan dedikasi tinggi. Setiap angka mewakili wajah, tawa, dan harapan yang kembali menyala.

Anaya Syakira Abimanyu, anak asuh yang bergabung sejak Juli 2024, merasakan langsung kehadiran yayasan. Ia mengaku bersyukur mendapat perhatian dan dukungan. “Ayah Robert sangat baik dan benar-benar menjadi sosok ayah bagi kami,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Kata-kata itu mewakili perasaan anak-anak lain.

Bagi Haji Robert, kebutuhan anak yatim tidak berhenti pada santunan. Pendidikan, tempat tinggal, makanan, kesehatan, hingga pendampingan sehari-hari juga harus diperhatikan. Ia ingin anak-anak itu tumbuh dengan layak, seperti anak-anak lain yang memiliki orang tua lengkap dan kasih sayang tanpa batas.

Yayasan Al Qohhar menyediakan fasilitas pendukung bagi anak-anak di rumah kerabat mereka. Mulai dari beasiswa, renovasi rumah, pendampingan sekolah, kunjungan psikolog, klinik dokter, hingga rumah sakit spesialis. Bahkan anak dengan jantung bocor, spina bifida, dan leukemia turut ditangani. Tidak ada yang dibiarkan sendiri menghadapi sakit dan keterbatasan.

Kartono Warigogung, Ketua Yayasan Al Qohhar, menegaskan bahwa amanat itu bukan sekadar memberi santunan. “Anak-anak ini punya banyak kebutuhan. Pendidikan, kesehatan, makanan, tempat tinggal, semuanya harus diperhatikan,” katanya menegaskan prinsip yang telah dipegang yayasan selama ini. Prinsip itu menjadi kompas dalam setiap langkah pelayanan.

Selama 23 tahun, hubungan Haji Robert dan anak-anak semakin dekat. Ia hadir bukan hanya sebagai pemberi bantuan, tetapi sebagai sosok yang memastikan kebutuhan mereka terpenuhi. Anak-anak pun menganggapnya sebagai orang tua, bukan sekadar donatur yang datang dan pergi. Santunan telah berubah menjadi pelukan seorang ayah yang tulus.

You may also like

Leave a Comment