Beranda » APL Hadirkan Tirzepatide, Terapi Inovatif untuk Diabetes dan Obesitas di Indonesia

APL Hadirkan Tirzepatide, Terapi Inovatif untuk Diabetes dan Obesitas di Indonesia

by Amalia Putri

HarianBisnis.id-PT Anugerah Pharmindo Lestari (APL), perusahaan di bawah naungan Zuellig Pharma, secara resmi menghadirkan tirzepatide di Indonesia. Obat dengan mekanisme kerja ganda ini menjadi agonis reseptor GIP dan GLP-1 pertama di kelasnya yang menawarkan pilihan terapi berbasis bukti untuk penanganan diabetes melitus tipe 2 dan obesitas.

Pengumuman ini disampaikan dalam media briefing di Jakarta, Sabtu (4/7), yang turut dihadiri oleh Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar, Ketua Umum Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) Em Yunir, serta Ketua Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI) Dante Saksono Harbuwono.

Kehadiran tirzepatide menjadi langkah strategis di tengah meningkatnya beban penyakit metabolik di Indonesia. Berdasarkan International Diabetes Federation (IDF) Diabetes Atlas 2025, diperkirakan terdapat 20,4 juta orang dewasa berusia 20–79 tahun yang hidup dengan diabetes di Indonesia. Angka tersebut diproyeksikan melonjak menjadi 28,6 juta pada tahun 2050. Sementara itu, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi obesitas pada orang dewasa telah mencapai 23,4 persen, menunjukkan peningkatan signifikan dalam satu dekade terakhir.

Diabetes melitus tipe 2 dan obesitas merupakan dua kondisi yang saling berkaitan erat dan secara signifikan meningkatkan risiko komplikasi serius, termasuk penyakit kardiovaskular dan penyakit ginjal kronis.

Presiden Direktur APL Christophe Piganiol menegaskan bahwa kehadiran tirzepatide merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk menghadirkan inovasi kesehatan yang berdampak bagi masyarakat Indonesia.

“Hadirnya tirzepatide merupakan langkah penting dalam upaya kami menghadirkan inovasi kesehatan yang berdampak bagi masyarakat Indonesia dan memastikan lebih banyak pasien dapat memperoleh akses terhadap terapi yang tepat. Melalui kolaborasi yang erat dengan regulator, organisasi profesi medis, dan tenaga kesehatan kami ingin membantu meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekaligus mewujudkan tujuan kami dalam membuat layanan kesehatan berkualitas menjadi lebih mudah diakses,” ujar Christophe Piganiol.

Kehadiran tirzepatide di Indonesia terwujud berkat kolaborasi erat dengan BPOM. Obat ini memperoleh izin edar pada Februari 2026 untuk indikasi diabetes melitus tipe 2, dan pada Juli 2026 mendapatkan tambahan indikasi untuk manajemen berat badan kronis. APL mengapresiasi peran BPOM yang memberikan persetujuan izin edar dalam waktu 98 hari kerja serta persetujuan indikasi manajemen berat badan hanya dalam 42 hari kerja melalui jalur reliance.

Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan bahwa setiap obat yang memperoleh izin edar telah melalui evaluasi ilmiah yang ketat untuk memastikan keamanan, khasiat, dan mutunya.

“BPOM berkomitmen untuk terus membangun ekosistem regulasi yang adaptif agar masyarakat Indonesia dapat memperoleh manfaat dari inovasi di bidang kesehatan dengan tetap menjunjung tinggi standar keselamatan pasien,” ujarnya.

Tirzepatide bekerja dengan mengaktivasi dua hormon inkretin alami, yaitu GIP dan GLP-1, yang berperan penting dalam mengatur kadar gula darah, meningkatkan sensitivitas insulin, serta mengendalikan nafsu makan dan keseimbangan energi. Mekanisme kerja ganda ini menghadirkan pendekatan terapi yang lebih komprehensif dalam pengelolaan diabetes melitus tipe 2 maupun obesitas.

Ketua Umum PERKENI Em Yunir menjelaskan bahwa berbagai studi klinis menunjukkan tirzepatide mampu memberikan kontrol glikemik yang signifikan sekaligus menghasilkan penurunan berat badan yang berarti pada pasien diabetes melitus tipe 2.

“Kehadiran inovasi ini memperluas pilihan terapi penyakit metabolik sehingga dokter dapat semakin mempersonalisasi pengobatan berdasarkan karakteristik klinis dan komplikasinya, serta pedoman praktik klinis yang berlaku,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua HISOBI Dante Saksono Harbuwono menekankan bahwa obesitas bukan sekadar masalah bentuk tubuh, melainkan perubahan faktor metabolisme yang perlu dikelola dengan tepat.

“Bicara tentang obesitas bukan sekadar bicara tentang bentuk tubuh. Obesitas adalah masalah perubahan faktor metabolisme tubuh. Oleh karena itu, pendekatan penanganan obesitas menjadi sangat krusial sebagai langkah preventif untuk mencegah terjadinya komplikasi lebih lanjut. Dengan menurunkan angka obesitas, kita secara langsung dapat menurunkan angka kejadian diabetes, menurunkan angka hipertensi, serta menekan risiko penyakit kardiovaskular dan penyakit penyerta lainnya,” jelasnya.

Kolaborasi erat antara regulator, organisasi profesi medis, industri, serta tenaga kesehatan diharapkan dapat memperkuat upaya Indonesia dalam mengatasi meningkatnya beban penyakit metabolik. Peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya akses terhadap terapi yang tepat juga berperan penting dalam meningkatkan kualitas kesehatan pasien sekaligus mendukung terwujudnya sistem kesehatan Indonesia yang semakin tangguh.

You may also like

Leave a Comment