Beranda » Musikal “Senja Teduh Pelita” Resmi Dipentaskan, Hadirkan Petualangan Emosional tentang Harapan dan Masa Depan Bumi

Musikal “Senja Teduh Pelita” Resmi Dipentaskan, Hadirkan Petualangan Emosional tentang Harapan dan Masa Depan Bumi

by Amalia Putri

HarianBisnis.id-Panggung Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, menjadi saksi awal perjalanan musikal “Senja Teduh Pelita” yang resmi memulai rangkaian pertunjukannya pada Jumat (3/7) hingga 12 Juli 2026. Dipersembahkan oleh Indonesia Kaya dan Jakarta Movin berkolaborasi dengan MALIQ & D’Essentials, musikal orisinal ini mengangkat kisah fiksi ilmiah tentang sekelompok anak yang berjuang membangun kembali peradaban setelah dunia porak-poranda .

Musikal bergenre science fiction ini membawa penonton ke masa depan ketika bumi dilanda krisis akibat perubahan iklim, pengelolaan energi yang tidak berkelanjutan, pandemi, dan peperangan antarbangsa. Populasi manusia menyusut drastis, tanah subur dan air bersih menjadi langka, hingga suatu hari seluruh orang dewasa menghilang dan meninggalkan sembilan anak menghadapi dunia yang telah mereka wariskan .

Di tengah situasi tersebut, seorang anak bernama Arah, yang diperankan secara bergantian oleh Alf Elijah Sigarlaki dan Daria Lakshmi Algamar, membentuk Pasukan Pelita. Bersama Kala (Xandrea Tabythaputri dan Clioichi Junio Eigo), ahli sejarah dunia; Volta (Sahlendra Syarief), ahli listrik dan mekanika; Langit (Mavisha Reakana), pembaca bintang; Hara (Emily Olivia), ahli tumbuh-tumbuhan; Palu (Nayaka Maleakhi), ahli membangun; Raga (Nadindra Gynta), pemanjat andal; Binbin (J. Rizhan), yang memahami bahasa hewan; serta Lagu (Annabella Farizky), yang memiliki kepekaan terhadap musik, mereka memulai perjalanan mencari harapan baru .

“Kisah yang terjadi di Musikal Senja Teduh Pelita adalah sebuah universe yang lahir dari inspirasi atas kejeniusan bunyi dan aksara khas MALIQ & D’Essentials yang indah, dekat, dan penuh refleksi atas hidup yang kita jalani,” ujar Nuya Susantono, Produser sekaligus Sutradara Musikal Senja Teduh Pelita .

Dalam perjalanan, Pasukan Pelita menemukan Teluk Pelita, kawasan yang masih utuh dan belum tersentuh kerusakan. Di tempat itu, mereka dihadapkan pada pilihan besar: melanjutkan pencarian orang tua atau membangun kehidupan baru. Perlahan mereka menyadari bahwa ancaman terbesar bagi masa depan bukan hanya dunia yang telah rusak, tetapi juga keserakahan yang dapat tumbuh di dalam diri manusia .

Sebanyak 20 lagu MALIQ & D’Essentials, termasuk “Senja Teduh Pelita”, “Himalaya”, “Aurora”, “Jalan Pulang”, hingga lagu dari album terbaru “Begini Begitu”, diinterpretasikan menjadi bagian dari perjalanan emosional para tokoh . Angga Puradiredja, vokalis MALIQ & D’Essentials, menyebut musikal ini sebagai “rumah baru” bagi lagu-lagu mereka.

“Hari ini, lewat Musikal Senja Teduh Pelita, lagu-lagu kami menemukan rumah baru. Mereka tidak lagi hanya hadir untuk didengar, tapi juga untuk dilihat, dirasakan, dan dihidupkan dalam sebuah dunia yang baru,” ujar Angga .

Keunikan pertunjukan ini hadir melalui tokoh utama Arah yang diperankan dalam dua interpretasi berbeda, versi laki-laki dan perempuan. Keduanya menjalani perjalanan cerita yang sama, namun menghadirkan pengalaman emosional yang berbeda bagi penonton . Musikal ini melibatkan 32 pemeran, di mana 11 di antaranya adalah anak-anak, serta 200 insan kreatif yang bersama-sama membangun pengalaman teater musikal yang imersif .

Dari sisi artistik, pertunjukan ini memadukan projection mapping, permainan laser, set panggung modular yang dapat bertransformasi, serta teknik puppetry yang menghadirkan satwa eksotis Indonesia seperti rusa, burung camar, dan elang. Seluruh musik dibawakan secara langsung oleh Wishnu Dewanta Orchestra .

Dengan durasi sekitar 2,5 jam, “Senja Teduh Pelita” tidak sekadar menghibur, tetapi juga mengajak penonton merenungkan hubungan manusia dengan alam dan tanggung jawab terhadap masa depan . Pertunjukan ini menjadi pilihan hiburan bermakna di momen libur sekolah dan akhir pekan, sebelum berakhir pada 12 Juli 2026 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta .

You may also like

Leave a Comment