HarianBisnis.id-Enam belas bulan sudah berlalu. Sejak April 2025, harga rumah sekunder di Indonesia tak pernah bisa mengejar inflasi. Juli 2026 mencatat Reales Price Index tumbuh hanya 0,9 persen secara tahunan. Inflasi nasional? Di angka 2,9 persen. Selisih dua poin persentase itu berbicara banyak: secara riil, harga rumah justru melemah.
Namun ada ironi di balik keterjangkauan itu. Suplai rumah sekunder justru menyusut 16,4 persen secara tahunan. Meski secara bulanan masih tumbuh tipis 0,2 persen, pilihan hunian yang tersedia di pasar semakin terbatas. Ruang membeli terbuka, tapi pilihan mengetat. Calon pembeli kini menghadapi dilema.
Suku bunga acuan Bank Indonesia memang turun 150 basis poin sejak September 2024 menjadi 4,75 persen. Estimasi SBDK KPR pun berada di kisaran 8,92 persen. Namun momentum itu tak diimbangi ketersediaan unit. Pasar seperti memberi air di tengah gurun—tapi gelasnya semakin kecil.
Marisa Jaya, Head of Market Research Rumah123, melihat masyarakat masih aktif mencari properti. “Terutama di wilayah penyangga Jakarta dan kawasan yang punya daya tarik hunian maupun investasi,” ujarnya. Namun ia mengingatkan, suplai yang menurun membuat pencari rumah tak bisa sekadar memilih. Mereka harus jeli melihat apa yang masih tersedia di lokasi incaran.
Minat pencarian pun mulai bergeser. Tangerang masih memimpin dengan proporsi 14,7 persen. Disusul Jakarta Selatan 12,9 persen dan Jakarta Barat 10,2 persen. Namun pergerakan tahunan menunjukkan cerita berbeda. Jakarta Selatan mencatat kenaikan proporsi tertinggi 1,2 persen. Jakarta Pusat menyusul 1,0 persen.
Tangerang justru kehilangan 1 persen proporsi popularitas secara tahunan. Pola ini mengindikasikan minat pembeli mulai bergerak kembali ke pusat kota. Mereka tak lagi hanya mencari harga murah di pinggiran. Akses dan lokasi strategis kembali jadi pertimbangan utama.
Pergerakan harga juga tak seragam. Makassar mencatat kenaikan tertinggi 10,0 persen secara tahunan. Denpasar 6,3 persen dan Bogor 3,7 persen. Di Jabodetabek, Bogor tumbuh 3,7 persen, Bekasi dan Depok masing-masing 2,3 persen. Sementara Jakarta hanya 0,4 persen dan Surabaya malah terkontraksi 0,5 persen.
“Angka nasional memang menunjukkan pertumbuhan terbatas,” kata Marisa. “Tapi ketika dilihat per kota, perbedaannya cukup signifikan.” Denpasar jadi contoh pasar dengan karakter unik—kenaikan harga 6,3 persen ditopang permintaan asing lewat kebijakan Second-Home Visa dan Golden Visa.
Di tengah program 3 Juta Rumah dan pembiayaan FLPP, keputusan membeli tak bisa lagi hanya bertumpu pada pertanyaan “kapan harga turun?”. Pertanyaan yang lebih penting: di mana rumah yang sesuai masih tersedia, dan sanggupkah saya membayarnya? Pasar berubah. Pembeli pun harus ikut berubah.
