HarianBisnis.id- Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL) menyelenggarakan Seminar dan Workshop Nasional bertajuk “Nilai Strategis Nasional TIK dari Alokasi Spektrum Upper 6 GHz untuk Mobile Broadband 5G-Advanced dan 6G di Indonesia” sebagai wadah kolaborasi nasional untuk membangun kesamaan pandangan mengenai kesiapan ekosistem digital Indonesia. Forum strategis yang berlangsung di Jakarta, Kamis (9/7), mempertemukan pemerintah, regulator, operator telekomunikasi, penyedia teknologi, akademisi, asosiasi industri, dan pelaku ekosistem digital.
Forum ini menjadi langkah strategis dalam memanfaatkan Upper 6 GHz sebagai pengungkit pengembangan 5G-Advanced dan 6G, sekaligus mempercepat terwujudnya Indonesia sebagai salah satu kekuatan ekonomi digital terdepan di kawasan. MASTEL mengambil langkah ini sebagai penegasan komitmen untuk merespons kebutuhan mendesak akan ketersediaan spektrum frekuensi mid-band yang memadai guna mendukung transformasi digital nasional.
Ketua Umum MASTEL Sarwoto Atmosutarno menegaskan bahwa pemanfaatan Upper 6 GHz merupakan agenda strategis yang memerlukan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. “Forum ini menjadi ruang bersama untuk membangun pemahaman yang berbasis data, menyelaraskan perspektif, serta merumuskan rekomendasi yang mampu mendukung pengembangan ekosistem digital Indonesia secara berkelanjutan agar Indonesia tidak mengulang keterlambatan adopsi 5G akibat ketersediaan frekuensi dan ekosistem yang belum memadai,” ujar Sarwoto.
Ia menambahkan bahwa kesiapan Indonesia dalam memanfaatkan Upper 6 GHz akan memperkuat fondasi pengembangan layanan digital masa depan sekaligus meningkatkan daya saing nasional dalam ekonomi digital global. Saat ini, pemanfaatan pita frekuensi Upper 6 GHz (6425–7125 MHz) masih berada dalam tahap pembahasan kebijakan di Indonesia. Keputusan strategis terkait alokasi ini diyakini akan memberikan dampak jangka panjang terhadap investasi digital, pengembangan jaringan, inovasi industri, serta daya saing nasional dalam mewujudkan Visi Digital Indonesia 2045.
Sejumlah tokoh kunci pendorong regulasi dan ekonomi nasional turut hadir, di antaranya Marsda TNI Dr. Eko Dono Indarto selaku Deputi V Bidang Koordinasi Komunikasi dan Informasi Kemenko Polkam, Adis Alifiawan selaku Direktur Penataan Spektrum Frekuensi Radio, Orbit Satelit, dan Standardisasi Infrastruktur Digital Direktorat Jenderal Infrastruktur Digital KOMDIGI, serta Andreas Bondan Satriadi selaku Koordinator Ekosistem dan Ruang Digital Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).
Seminar nasional ini menghadirkan dua sesi panel strategis. Sesi pertama membahas “Nilai Utama Spektrum Upper 6 GHz untuk Manfaat Masyarakat dan Ekonomi Digital” dengan menghadirkan Yishen Chan (Director of Spectrum Policy & Regulatory Affairs APAC, GSMA) beserta perwakilan dari Direktorat Penataan Spektrum Komdigi, PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel), Institut Teknologi Bandung (ITB), Telkom University, dan Huawei Technologies. Sesi kedua membahas “Peta Jalan Kebijakan Strategi Upper 6 GHz Indonesia” dengan menghadirkan Marwan O. Baasir (Direktur Eksekutif Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia – ATSI), beserta perwakilan dari Kemenko Polkam, Qualcomm International, PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk, PT Indosat Tbk (Indosat Ooredoo Hutchison), Universitas Padjadjaran, dan Universitas Indonesia.
Sebagai bentuk komitmen nyata, seminar ini menghasilkan sejumlah output krusial bagi pemerintah, antara lain Deklarasi Bersama Industri mengenai dukungan terhadap pemanfaatan Upper 6 GHz untuk Mobile Broadband, Ringkasan Eksekutif (Executive Summary), serta Dokumen Rekomendasi Kebijakan MASTEL. Selain itu, forum ini juga merekomendasikan pembentukan Working Group yang berfokus pada pengembangan spektrum 5G-Advanced dan 6G.
Melalui sinergi ini, MASTEL berharap dapat membangun pemahaman bersama demi terciptanya kebijakan spektrum nasional yang berkelanjutan, adaptif, serta mampu mendorong pertumbuhan ekonomi digital Indonesia di kancah global.
