HarianBisni.id-Tiga tahun lalu, Ritno Kurniawan bersama mayoritas warga Desa Nyarai, Sumatra Barat, masih menggantungkan hidup dari menebang kayu di kawasan hutan Bukit Barisan. Penghasilan mereka hanya sekitar Rp100 ribu per sekali angkut, tiga kali seminggu, dengan risiko kecelakaan tinggi dan kerusakan lingkungan yang parah.
Kini, pria yang sama menjadi penggerak utama transformasi desa. Ritno memimpin lebih dari 100 masyarakat beralih profesi menjadi pemandu ekowisata profesional. Pendapatan mereka melonjak menjadi Rp400–500 ribu per minggu, bahkan ada yang meraih lebih dari itu.
Perubahan dramatis itu terjadi berkat program Desa Sejahtera Astra yang memberikan pendampingan intensif, pelatihan, peralatan, serta pengembangan atraksi wisata seperti arung jeram, trekking, dan kolam alami.
“Sebelumnya sekitar 80 persen masyarakat menggantungkan penghasilan dari penebangan kayu. Dengan pendampingan konsisten, mereka kini percaya diri menjadi pemandu wisata,” ujar Ritno Kurniawan, Tokoh Penggerak Desa Sejahtera Astra Nyarai, di Padang Pariaman, Selasa (21/4).
Dalam tiga bulan pendampingan, warga yang semula buta standar pariwisata berhasil mengantongi sertifikasi kepemanduan. Saat ini, tercatat 45 pemandu arung jeram dan 25 pengurus inti yang mengelola kawasan wisata secara profesional.
Kunjungan wisatawan domestik hingga mancanegara, termasuk dari Malaysia, terus meningkat. Ekosistem ekonomi desa pun tumbuh: homestay, jasa pemandu, dan usaha pendukung lainnya bermunculan.
Presiden Direktur Astra, Djony Bunarto Tjondro, menegaskan komitmen perusahaannya. “Pengembangan ekowisata berkelanjutan di Nyarai membuktikan bahwa pelestarian lingkungan dan penguatan ekonomi dapat berjalan beriringan,” katanya.
Kisah Ritno menjadi bukti nyata bahwa satu langkah kecil bisa mengubah masa depan sebuah desa. Dari penebang kayu yang merusak hutan, kini ia menjadi pemandu yang justru menjaga kelestarian kawasan Bukit Barisan.
