HarianBisnis.id- Pameran percetakan terbesar di Indonesia kembali bergema. ALLPrint Indonesia 2026 resmi dibuka di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (7/10/2026). Memasuki penyelenggaraan ke-27, ajang ini menegaskan posisinya sebagai hub strategis industri grafika nasional. Pameran berlangsung empat hari, 7–10 Oktober 2026, menghadirkan inovasi dari mesin cetak hingga solusi digital terintegrasi.
Perjalanan ALLPrint bukan kisah singkat. Pertama digelar 1995 dengan nama Print Paper Pack, pameran ini tumbuh bersama industri percetakan Indonesia. Krista Exhibitions berdiri sejak 1994 dan menyelenggarakan gelaran perdana setahun kemudian. Kini, setelah 27 edisi, ALLPrint menjelma barometer perkembangan teknologi grafika, kemasan, label, tekstil, hingga signage di Tanah Air dan Asia Tenggara.
Tahun ini, sekitar 400 peserta ambil bagian, termasuk 20 UMKM. Peserta datang dari lebih dari 10 negara: Indonesia, China, Hong Kong, Malaysia, Taiwan, Jerman, Jepang, India, Singapura, dan Korea Selatan. Jumlah ini lebih ramping dibanding 2024 yang diikuti 1.500 perusahaan, namun mencerminkan seleksi kualitas dan fokus pada teknologi yang benar-benar dibutuhkan pasar.
Sejarah mencatat fluktuasi jumlah peserta. Pada 2022, pameran diikuti 765 perusahaan dengan 20.000 pengunjung. Tahun 2023, peserta melonjak menjadi 1.100 perusahaan dari 19 negara, menargetkan 35.000 pengunjung. Puncaknya 2024, 1.500 perusahaan dari 30 negara dan target 50.000 hingga 80.000 pengunjung. Tahun 2025, ALLPrint menghadirkan 500 peserta dari 20 negara dengan target 60.000 pengunjung.
Tahun ini, penyelenggara menargetkan sekitar 60.000 pengunjung selama empat hari. Nilai transaksi diproyeksikan melampaui Rp100 miliar, terutama dari penjualan mesin, peralatan, bahan, dan kebutuhan industri. Harga mesin yang ditawarkan beragam, mulai Rp50 juta hingga Rp500 juta. Angka ini masih dapat bertambah melalui pemesanan ulang setelah pameran berakhir, menurut penyelenggara.
CEO Krista Exhibitions, Daud D. Salim, menegaskan industri percetakan kini berkembang sangat luas. “Tidak hanya berbicara mengenai mesin dan teknologi cetak konvensional, tetapi juga digital printing, printing untuk kemasan, teknologi grafis, label, hingga berbagai solusi yang dibutuhkan industri,” ujarnya. Perkembangan digital printing berlangsung dari sisi kualitas, kecepatan, presisi, tinta, hingga biaya produksi yang semakin efisien.
Industri percetakan Indonesia pada 2026 diproyeksikan tumbuh 3,39 persen, dengan pertumbuhan kumulatif stabil di kisaran 11,42 persen. Sektor kemasan dan label melonjak hingga 20 persen, sementara textile printing tumbuh sekitar 15 persen. Pertumbuhan ini didorong penetrasi e-commerce dan kebangkitan UMKM. Pasar percetakan nasional diperkirakan bernilai USD216 juta pada 2025 dan diproyeksikan mencapai USD288 juta pada 2032.
ALLPrint Indonesia 2026 digelar bersamaan dengan sejumlah pameran pendukung: Indo Sign & AD, Textile Printing, Print For Pack, Inter Corrugated, dan Pro Label Asia. Kolaborasi ini memperluas cakupan industri yang dapat dijangkau pengunjung dalam satu lokasi. Mulai dari percetakan, advertising, digital printing, textile printing, packaging, label, hingga industri terkait lainnya, semuanya saling terhubung dalam proses produksi.
Rangkaian seminar dan forum industri turut memeriahkan pameran. Topik yang diangkat antara lain “Ready for 2027 and onward? The New Rules of Digital Textile Printing”, “The Future of Carton Manufacturing: Smart Machines, Smart Solutions”, serta tren single pass technology untuk digital printing. MUNAS Asosiasi PPGI menghadirkan tema “Industri Percetakan Memasuki Era Pengadaan Barang dan Jasa Digital”. Isu packaging dibahas melalui Food Safety Packaging, Proofing vs Mock Up Proof, hingga “Halal Certification and Packaging is Must”.
Program Business Matching dan Hosted Buyer memperkuat sisi bisnis pameran. Program ini mempertemukan exhibitor dengan calon buyer dan pelaku industri yang memiliki kebutuhan serta potensi kerja sama. Dengan demikian, ALLPrint Indonesia 2026 bukan sekadar ajang melihat teknologi terbaru, melainkan ruang bertemu, bertukar wawasan, membangun koneksi, dan membuka peluang bisnis. Pameran ini menjadi momentum kolaborasi industri grafika menuju era digital yang semakin terintegrasi.
